Langsung ke konten utama

Akibat Suami Terlalu Sibuk Kerja


Saya adalah seorang perempuan yg sudah bersuami dan sudah memiliki anak, sebut saja nama saya Reni. Saya bukanlah wanita yg berparas bidadari, walaupun begitu tdk dapat juga dikatakan jelek. Bahkan beberapa orang mengatakan saya menarik walaupun kulit saya tdk bisa dikatakan putih. Entah mereka yg saya kenal maupun selentingan dan kekaguman orang di luar sana. Baik yg mengungkapkan langsung maupun yg disampaikan melalui orang lain.

Saya adalah anak pertama dari sebuah keluarga yg berkecukupan walaupun tdk kaya raya. Ayah saya adalah seorang pengusaha yg cukup diperhitungkan dikampung saya. Saya menikah dengan seorang pria yg sangat saya cintai hubungan kamipun didukung sepenuhnya oleh kedua orang tua kami.

Hubungan sex kami tdk ada masalah bahkan sepertinya semakin hari semakin panas saja. Terasa harmonis sekali kehidupan rumah tangga kami. Selain itu dilingkungan tetangga kami, aku dikenal sebagai sosok isteri yg baik, ramah, setia, dan alim. Pokoknya tdk ada satupun berita miring tentang aku.

Seiring dengan perkembangan waktu, pekerjaan suami pun semakin sibuk karena karir suami saya dikantornya sedang melonjak pesat. Hal itu membuat suami saya harus bekerja dari pagi sampai malam sehingga sampai dirumah sudah kecapaian, bahkan kadang-kadang harus keluar kota untuk beberapa hari karena urusan kantornya, membuat hubungan seks kamipun berkurang drastis. Apabila dahulu kami melakukannya hampir tiap hari sekarang paling banyak satu kali dalam sebulan. Saya pribadi memakluminya dan mencoba untuk bersabar, toh ini demi kebaikan masa depan rumah tangga kami juga.

Sikap suami saya yg dahulu sangat perhatian dalam keluarga menjadi berkurang, saya sadar ini bukanlah karena sikapnya yg berubah tetapi karena tuntutan pekerjaan yg membuatnya lebih banyak mencurahkan perhatiannya pada tugas-tugasnya. Tetapi saya tetaplah wanita yg membutuhkan kasih sayang, perhatian dan belaian dari seorang suami. Terus terang (hal ini baru saya ketahui akhir-akhir ini) bahwa saya memiliki nafsu seks yg cukup besar.

Hingga pada suatu hari. . .

Hari itu hari minggu, suami saya akan berangkat keluar kota mengurus kerjaannya untuk waktu tiga hari. Dia pamit pada saya pagi itu. Setelah suami saya pergi, saya pun berangkat ke rumah sakit untuk perawatan gigi yg memang saya lakukan setiap enam bulan sekali. Sedangkan anak saya tinggal dirumah dengan ditemani pembantu.

Sampai dirumah sakit saya pun mengambil nomor antrian dan duduk sambil menunggu nomor antrian saya dipanggil. Tepat diseberang saya berjalan seorang pria yg dari tadi selalu melirikkan matanya pada saya. Tak lama kemudian pria itu menghampiri saya, setengah berteriak dia berkata…

“ Reni ya?”

Saya tertegun sejenak dan berpikir darimana dia tau nama. Kemudian saya menjawab…

“Iya, saya Reni … anda siapa ya?”
“kok Kamu lupa ya sama aku? saya teman kelasmu sewaktu SMU dulu!”

Setelah saya amati wajahnya akhirnya…

“Bowo ya?”

Dia mengangguk dua kali.

“Ya ampun, Bowo … aku pangling maaf ya…”
“Gak apa-apa aku juga tadi agak lupa sama kamu… mmh ngapain nih?” Tanya Bowo
“Ini aku mau Check up gigi” Jawabku.
“Kamu ngapain?” Tanyaku lagi
“Aku habis menjenguk teman sakit, antrian mu masih lama ya?”
“Lumayan, antrianku nomor 52 dan sekarang masih nomor 47” jawabku.
“Kamu sendirian?” Tanyanya.
“Iya”

“Aku dengar kamu sudah nikah, suamimu mana?”
“Suamiku gak bisa ikut ngantar, soalnya lagi sibuk” Jawabku singkat.
“Ya sudah, aku temenin deh” Jawabnya.
“Nggak usah Bowo, aku nggak apa-apa kok sendirian” Tolakku.
“Ah.. nggak apa-apa kok, lagian ini kan hari minggu aku lagi nggak ada kerjaan” Jawabnya setengah memaksa.
“Kita kan baru ketemu setelah lama pisah, pengen nborol-ngobrol sama kamu, boleh kan?” sambungnya.
“Ya deh, asal nggak mengganggu waktumu aja” Jawabku.

Kami pun larut dalam obrolan-obrolan panjang yg mengasyikkan, kami mengobrol kenangan masa-masa SMU dulu. Topik yg sangat mengasyikkan bagiku. Perlu diketahui Bowo ini adalah teman sekelasku sewaktu SMU dulu, hubungan kami memang pernah ada hubungan special dengan dia,. Bahkan sudah menjadi seperti hubungan abang-adik sekaligus pacar

Obrolan kami pun terhenti saat suster jaga memanggil nomor antrianku dua kali. Kemudian aku berkata kepada Bowo …

“wo, kamu nggak perlu nungguin aku”
“Ah.. nggak apa-apa biar aku tungguin aja kamu disini, lagian kamu kan nggak bawa kendaraan biar nanti aku antarin kamu pulang, kebetulan aku bawa mobil” Jawabnya.

Memang di sela-sela obrolan kami tadi dia sempat bertanya apa kendaraanku kesini, dan aku jawab naik angkot.

Akhirnya aku biarkan dia menunggu, dan aku pun masuk keruang periksa. Kurang lebih satu jam kemudian aku pun keluar, karena check up gigiku sudah selesai. Kulihat Bowo masih menunggu. Setia juga cowok ini nungguin aku hampir satu jam seperti ini bathinku, coba suamiku mau nungguin aku seperti ini bathinku lagi. Sayangnya suamiku sudah nggak punya lagi waktu untukku.

“Maaf ya wo lama nunggunya” Kataku.
“Nggak apa-apa kok, jangankan satu jam, setahun pun aku tungguin” Jawabnya.

Aku berpikir apa maksudnya menjawab seperti itu, mudah-mudahan dia tdk sedang merayuku. Aku pun membalas dengan senyuman.

“Mau pulang sekarang?” Tanyanya?
“Terserah kamu”
“Ok, yuk” Katanya.

Sesampainya didalam mobil. Dia pun menyalakan mobil dan beranjak pergi dari rumah sakit. Dalam perjalanan dia menceritakan kalo mobil tersebut bukanlah mobil pribadinya melainkan mobil perusahaan yg dipinjamnya. Dia juga menceritakan kalo dia bekerja pada sebuah perusahaan supplier alat-alat bangunan, dan dia menjabat sebagai Supervisor.

Walaupun sebagai Supervisor, kerjaanya bukan hanya duduk-duduk saja, tetapi juga membantu buruh kasar mengangkat alat-alat berat. Begitu ceritanya. Pantas badannya besar dan kekar kayak gitu, bathinku. Tanpa sadar aku membayangkan bentuk badannya dibalik kaos ketatnya itu, mendadak nafasku menjadi berat. Lamunanku dikejutkan oleh suaranya yg besar. Untung saja suaranya memecahkan lamunan kotorku, kalau nggak bisa gawat bathinku.

“Rumahmu dimana ren?” Tanyanya.

ya masih sama seperti dulu wo,kaya nggak pernah main aja.ya nggak ren kirain ngikut kerumah suami

“Wah berarti kalo mau kerumahmu ren rumahku dulu dong, kamu mau mampir kerumahku dulu? Kebetulan aku tinggal sama kakak perempuanku Nita, kamu juga kenalkan?”

Mendengar dirumahnya dia tdk tinggal sendirian tetapi bersama kakaknya, aku pun meng-iya-kan.

“Boleh deh, sekalian pengen ketemu sama kak Nita udah lama gak ketemu” Jawabku.

Tak berapa lama kemudian kami sampai dirumah Bowo. Rumahnya kecil saja, tetapi cukup rapi halamannya ditumbuhi berbagai macam-macam bunga yg membuat rumah mungil itu tampak asri.

Sampai didalam rumah kami disambut kak Nita yg masih seperti dulu tetap ramah dan bersahabat, kemudian kak Nita mempersilahkan aku duduk disofa biru dalam rumahnya.

“Mau minum apa ren?” Sapa kak Nita.
“Nggak usah repot-repot kak, nanti aku ambil sendiri kalau pengen” Jawabku padanya. Memang dari dulu aku sudah lumayan akrab dan tdk canggung lagi dengan keluarga besar Bowo.
“Ya sudah, kakak kebelakang dulu ya kebetulan tadi lagi masak” Jawab kak Nita sambil beranjak kebelakang tampaknya menuju dapur.
“reni, istirahat aja dulu ya, aku masuk dulu sebentar” Sapa Bowo yg sejak tadi diam.
“Iya wo..” Jawabku.

Pandanganku menyapu seluruh ruang tamu itu, tampak beberapa buah foto Beni bergantung didinding ruangan itu. Tak ada foto wanita lain selain foto kak Nita sebuah dan foto ibu dan bapaknya Bowo. Berarti benar yg dikatakan Bowo sewaktu ngobrol dirumah sakit tadi, kalo dia memang belum menikah.

Bosan sendirian aku pun bermaksud kebelakang untuk menemui sekalian membantu kak Nita didapur. Rupanya dapurnya berada jauh dibelakang karena harus membelok lagi kekiri. Belum sampai kaki menuju dapur terdengar suara desiran air dari kamar mandi sebelah kananku yg terbuka sedikit. Secara reflek mataku mamandang kearah itu.

Wow… aku terkejut setengah mati melihat Bowo sedang kencing di dalam kamar mandi. Tetapi bukannya berpaling kearah lain mataku justeru melotot memandang penis Bowo yg walaupun tdk sedang tegang tampak besar dan panjang, terlintas diotakku gimana gedenya penis itu kalau sedang tegang. Seketika itu juga CD ku terasa lembab, pasti dikarenakan cairan memekku yg keluar.

Bowo yg dari tadi tdk sadar kalau penisnya sedang kupandangi, akhirnya terusik dengan kehadiranku. Dia memalingkan wajahnya kearahku, terjadi kontak mata sebentar antara aku dan Bowo, dia terkejut dan gelagapan tak menygka sedang kupandangi. Tanpa mengeluarkan kata-kata aku pun beranjak meninggalkan Bowo menuju kedapur yg menjadi tujuan awalku.

Dadaku berdegup kencang antara perasaan malu, menyesal, dan ah… bodohnya aku rupanya aku jadi terangsang juga olehnya. Mengapa aku menjadi terangsang melihat penis lelaki lain selain suamiku. Apa karena sudah hampir satu bulan ini aku tdk diberi jatah oleh suamiku. Se-alim apapun dan sehebat apapun aku menahan gejolak ini, aku tetaplah wanita yg memang butuh akan hal yg satu itu. Hal ini tdk dapat kupungkiri.

Setelah membantu kak Nita memasak, akupun kembali keruang tamu. Kudapati Bowo sedang duduk di sofa sambil membaca koran. Rasa maluku bertambah saat bertemu Bowo diruang tamu. Tapi tanggapan Bowo sungguh berbeda dari yg aku pikirkan. Bowo seolah-olah tdk peduli akan hal itu, seolah tdk terjadi apa-apa. Setelah suasana kuanggap tenang, aku pamit pulang dengan diantarkan Bowo. Setelah sampai, Bowo tdk mampir dia langsung meluncur kembali. Sesampainya dirumah aku langsung mandi, kucoba melupakan apa yg terjadi barusan.

Paginya, seperti biasa aku mengantarkan anakku pergi kesekolah setelah itu aku pulang kembali kerumah. Baru saja aku masuk kedalam rumah, tiba-tiba pembantuku minta ijin untuk pulang kampung karena ayahnya sakit keras. Jarak dari kota menuju kampung halamannya memakan waktu kurang lebih 5-6 jam perjalanan sehingga mengharuskan dia bermalam disana. Akupun mengijinkannya dan memberikan dia sedikit uang saku untuk keperluannya, dia pun menjanjikan akan segera pulang setelah kondisi ayahnya membaik.

Jam 9 pergilah pembantuku menuju kampung halamannya dengan menggunakan bis, sekarang tinggal lah aku sendirian dirumah. Disaat sendirian seperti ini, aku kembali merasa kesepian sehingga kejadian kemarin kembali terlintas. Terbayang dibenakku Badan Bowo yg tegap, otot-ototnya yg kekar, dadanya yg bidang, dan penisnya yg besar ah… mengapa aku jadi begini, mengapa aku begitu terangsang mengingatnya. Semua bayangan itu membuat payudaraku mengeras, otot-otot memekku berkontraksi, kemudian dalam hitungan menit akupun orgasme. Sepertinya aku tergila-gila kepada Bowo teman kelasku tersebut. Aku tahu ini salah, tapi sungguh aku tak dapat menahannya.

Siangnya kujemput anakku dari sekolahnya, tetapi dua jam kemudian anakku kembali kesekolah untuk mengikuti les tambahan pelajaran yg memang setiap sore diikutinya.

Sore itu hujan turun dengan lebat sekali, kembali aku sendirian dirumah. Daripada bosan dan memikirkan yg nggak-nggak akhirnya kuputuskan untuk menonton film DVD. Kucari-cari koleksi film-film suamiku, setelah memilih-milih kuputuskan untuk menonton film yg dibintangi aktris favoritku Angelina Jolie yg berjudul Original Sin (mungkin ada beberapa pembaca yg sudah menonton film ini, bagi yg belum kusarankan jangan menontonnya he..he..). Baru saja kuputar film tersebut di DVD Player, tiba-tiba ada yg mengetok pintu. Akupun melangkah untuk membukakan pintu.

“Eh.. Bowo, silahkan masuk” Tak kusangka Bowo main kerumahku sore itu, kupersilahkan dia masuk dan duduk diruang tamu.
“Lagi nonton ya ren?” Tanya Bowo. (Memang TV kami berada diruang tamu)
“Iya” Jawabku
“Film apa?”

“Nggak tahu tuh.. judulnya Original Sin” Jawabku lagi. (Awalnya aku memang nggak tahu cerita dari film tersebut)
“Kamu hobby nonton juga ya” Sambungnya.
“Kadang-kadang sih”
“Kok sepi, mana anakmu” Tanyanya.
“Anakku lagi les disekolah”
“Suamimu belum pulang ya?” (Bowo memang sudah tahu kalau suamiku sedang pergi keluar kota dari obrolan kami kemarin)

“Belum wo, mungkin besok kalau pekerjaannya sudah selesai”
“Berarti kamu sendirian dong, aku jadi nggak enak nih” Kata Bowo.
“Nggak enak kenapa?” Tanyaku balik.
“Ya kamu kan lagi sendirian, nggak enak dong aku cowok main disini” Jawabnya.

“Nggak apa-apa kok” Jawabku “ Baru pulang kerja wo?” Tanyaku.
“Iya nih, tadinya sih mau langsung pulang tapi karena kebetulan rumah kita satu jalur dan posisiku lebih dekat kerumahmu langsung aja aku main, sekalian berteduh nunggu hujan agak reda” Jawabnya.
“Tunggu sebentar ya wo kubuatkan teh hangat biar nggak kedinginan”
“Ok deh, kalau nggak merepotkan”. Jawabnya. Aku hanya tersenyum.

Setelah teh selesai kuseduh, akupun kembali keruang tamu.
“Silahkan diminum wo, mumpung masih hangat”
“Terimakasih ya ren” Jawab Bowo.

Sejurus kemudian kami pun mulai fokus pada film DVD yg sedang tayg didepan kami. Sementara hujan diluar semakin menjadi-jadi saja.

Beberapa saat kemudian tayangan film tersebut memasuki bagian yg hot, yaitu saat Angelina Jolie dan Antonio Banderas sedang bersetubuh. Ada rasa malu dalam diriku melihat tayangan tersebut, ingin kumatikan TV tetapi kulirik Beni sedang serius menonton, akhirnya kubatalkan niatku mematikannya dan akupun meneruskan menonton film tersebut. Semakin lama film tersebut semakin hot saja, tanpa sadar aku mulai terangsang menontonnya, ditambah cuaca hujan diluar sana membuat birahiku bergejolak. Aku tak tahu apa yg dirasakan Bowo saat ini, tapi aku yakin diapun juga sedang bergairah. Aku kagum juga dia mampu menutupinya dengan tetap diam dan tenang.

Karena birahiku sedang bergejolak tinggi, tanpa sadar tangan kiriku meremas tangan kanan Bowo. Setelah sadar apa yg aku lakukan aku menarik tanganku, tetapi dengan sigap tangan Bowo menahannya. Sekarang gantian tangan kanan Bowo yg meremas tangan kiriku. Aku kaget dan terpaku atas remasan tangan Beni pada tanganku, kemudian Bowo mendekatkan tubuhnya padaku. Dan wajahnya semakin dekat dengan wajahku, Bowo sepertinya akan mengecup bibirku.

Sebelum bibirnya menyentuh bibirku masih sempat aku berkata

“Jangan wo” tetapi tdk ada perlawanan sama sekali dari tubuhku, aku seakan mengharap bibirnya cepat-cepat menyentuh bibirku.

Sejurus kemudian mulut Bowo mulai melumat bibirku, dimainkannya lidahnya dalam rongga mulutku, aku semakin terangsang, aku mulai lupa segalanya. Lumatan bibir Bowo yg tadi hanya kubiarkan saja mulai kuberikan perlawanan, tapi saat ini bukan perlawanan tanda penolakan yg kuberikan tapi justeru lumatan mulut Bowo kubalas dengan lumatan mulutku yg tdk kalah ganasnya. Tak hanya sampai disitu, tangan Bowo mulai beraksi meremas kedua buah payudaraku secara bergantian dari luar daster yg kugunakan. Tak terasa mulutku mulai mengeluarkan lenguhan nikmat oh..oh..

Aku semakin nekad saja, penis Bowo yg selama ini hanya bisa kubayangkan akhirnya kuremas dengan ganas dari luar celana jeansnya. Melihat reaksiku Bowo pun semakin ganas, setelah puas melumat bibirku giliran leherku, telingaku, dan pundakku yg digarapnya. Tdk sampai disitu tangan kanannya mulai mencari jalan masuk untuk meremas payudaraku secara langsung. Karena baju yg kupakai adalah baju terusan membuat aku harus mengangkat dasterku sampai kepinggang.

Hal ini membuat paha mulusku terbuka, bukan itu saja CD putihku pun terlihat oleh Bowo. Keadaan ini tdk disia-siakan oleh Bowo, tangannya mulai mengusap paha mulusku, kemudian memekku walau dari luar CD yg kugunakan, tangannya terus naik menelusup kedalam pakaianku dan kedalam BHku dan meremas kedua payudaraku secara bergantian.

Nikmat sekali yg kurasakan akupun melenguh lagi

“oooh.. Bowo …”

Akupun semakin tergila-gila dibuatnya. Akupun mulai membuka ikat pinggang yg digunakan Bowo, dia membantu menurunkan jeansnya sebatas lutut. Terlihat jelas oleh mataku tonjolan penis Bowo dari balik CD hitam yg digunakannya, bahkan kepala penisnya agak menyembul sedikit keluar karena tak mampu ditutupi oleh CD nya. Tanpa membuka terlebih dahulu CD yg dikenakan oleh Bowo, ku selusupkan tanganku kedalam CD hitamnya, tanganku mulai meremas penis Bowo dari dalam CD hitamnya.

Bowo menjadi gelagapan, diapun berdiri bermaksud melepas daster yg kugunakan. Belum sempat tangannya membuka dasterku, kutepis tangannya kemudian disaat dia berdiri kuturunkan jeans dan CD hitam yg dikenakan Bowo.

Woow. . . sedikit histeris aku melihat betapa besar dan panjangnya penis Bowo dalam kondisi tegang seperti ini, sambil jongkok dilantai kudekatkan tubuhku ke tubuh Bowo yg sedang berdiri. Tanganku mulai mengocok penis besar Bowo, sambil mengocok dan mengamati penis Bowo , tiba-tiba muncul perasaanku ingin sekali mengulum penis gede itu.

Secara refleks kudekatkan wajahku ke penisnya dan sejurus kemudian kumasukkan penis besar itu kedalam mulutku tak dapat seluruh penis Beni masuk kedalam mulutku saking panjangnya penis itu, kemudian akupun mulai mengulum penis besar dan panjang milik Bowo tersebut. Kuperhatikan wajah dan mata Bowo merem-melek merasakan sensasi akibat kulumanku pada penisnya.

Beberapa saat kemudian Bowo mengangkat tubuhku hingga berdiri. Dilepaskannya dasterku kemudian BHku dan terakhir CD putihku. Matanya melotot kearahah memekku yg ditumbuhi bulu-bulu lebat yg memang kubiarkan tumbuh. Dalam kondisi telanjang bulat diangkatnya tubuhku diangkatnya kaki kiriku dan diletakannya diatas meja ruang tamu, kemudian Bowo berjongkok kebawah tubuhku dan mulai menjilati memekku dari bawah. Mulutku meracau tdk karuan merasakan kenikmatan yg diberikan Bowo, terlebih saat dia mengulum klitorisku. “Oohhh…. Bowo, nikmat sekalliii…”

“Bowo … kamu hebat wo…, lidahmu nakal wo… ooohhh….” Racauku
“Bowo aku ingin penismu dimasukkan wo… cepat wo…. Ooohhh… ssshh…” Tdk ada lagi rasa maluku sebagai isteri orang, rasa maluku telah sirna digantikan oleh kenikmatan-kenikmatan yg diberikan bekas pacar  sekelasku ini.

Bowo tdk menjawab, kemudian dia menggendongku dan dipapahnya aku menuju kamarku yg merupakan kamarku bersama suamiku. Diletakannya aku diatas ranjang pengantinku tersebut, kemudian ditekuknya kedua kakiku dan dibukanya lebar-lebar terlihat jelas memekku dari posisi Bowo.

Kemudian diapun mulai memasukkan penis besar dan panjang tersebut secara perlahan kedalam memekku yg telah sangat basah.

“Aahhh………” Teriakku merasakan nikmatnya tusukan Bowo. Belum masuk sepenuhnya penis Bowo, sementara memekku telah terasa penuh sesak.

Tetapi Bowo tdk menyerah, perlahan mulai dinaik turunkannya penisnya, dalam beberapa kali goyang dengan sedikit memaksa ditusukkannya penisnya sepenuhnya.

“Aahh… Bowo …” Jeritku merasakan nyeri sedikit tapi nikmat luar biasa.

Tak dapat kurasakan betapa nikmatnya saat itu. Terasa ada ruang dalam memekku yg selama ini belum tersentuh, sekarang telah dimasuki oleh penis besar dan panjang milik Bowo.

Bowo mulai menggoyangkan pantatnya naik-turun. Pertama perlahan, semakin lama semakin cepat saja, membuatku menjerit dan meracau tdk karuan.

“Bagaimana ren, kamu suka” Celoteh Bowo.

Aku mengangguk malu.

“Besar mana penisku dibanding suamimu” Tanya Bowo.

Aku tdk menjawab.

“Besar mana penisku dibanding punya suamimu ren?” Tanyanya.

Akhirnya kujawab “Oohhh… besar punyamu sayaanngggg…”accchhh nikmaatt banget sayangg..terus genjot memekku sayaannggg,aku benar-benar kelabakan di tusuk oleh senjata milik bowo…..ayooo sayaanngg,,teuss,,genjooot aku hampirr keluarrr sayaanngg,dan akhirnya meledaklah lahr kenikmatan dari liang memekku…aacchhh  crattt..crratt..aku keluar sayannggg.
setelah itu kami sama-sama terkulai lemas oleh puncaknya kenikmatan
. . .
Sekitar jam 5 sore itu kami pun pergi. Bowo pulang sementara aku menjemput anakku dari les nya. Keesokan harinya suamiku pulang, kusambut suamiku dengan gembira. Suamiku pun tampak gembira atas sambutanku ada rasa bersalah dalam diriku tetapi seketika itu juga kutepis. Setelah itu kusiapkan air hangat untuk suamiku mandi. Malam itu kami habiskan waktu dengan bercerita, khusunya mengenai pekerjaannya selama 2 hari diluar kota. Kami tdk melakukan hubungan badan malam itu karena suamiku kecapaian.

Besok paginya suamiku berangkat kerja untuk melaporkan hasil kerjanya selama 2 hari kepada pimpinannya. Seperti biasanya sebelum kekantor dia mengantarkan anak kami ke sekolahnya terlebih dahulu. Setelah sendirian dirumah kutelpon Bowo, aku katakan pada Bowo untuk melupakan semua yg terjadi dan menghentikan kegilaan kemarin, cukup sampai disitu dan aku tak ingin berjumpa lagi dengannya. Bowo kecewa mendengar pernyataanku tersebut tetapi akhirnya dia bisa menerimanya.

Kehidupanku kembali seperti biasanya, memang aku merasa berdosa tetapi demi keutuhan keluarga biarlah semua itu menjadi rahasia hidupku saja pikirku.

Dua tahun telah berlalu sejak kejadian tersebut, sementara kehidupan keluargaku tambah harmonis saja. Karir suamiku semakin meningkat yg tadinya hanya sebagai staff sekarang sudah dipromosikan sebagai Asisten Manejer, bahkan kata suamiku dia segera akan menjadi Manejer, tetapi untuk mencapai jabatan itu dia harus melanjutkan studinya keluar negeri. Dengan meningkatnya karir suamiku, perekonomian keluargaku pun semakin membaik. Apabila dulu kami belum memiliki mobil pribadi hanya mobil inventaris kantor suamiku saja, sekarang kami telah memiliki sedan keluaran terbaru bermerk Honda.

Beberapa bulan kemudian datang surat dari kantor pusat suamiku, yg isinya menyarankan suamiku untuk melanjutkan studinya keluar negeri dengan dibiayai oleh perusahaan tempatnya bekerja selama kurang lebih 2 tahun. Setelah kami berunding, akhirnya aku merelakan dia pergi, toh itu demi kebaikan keluarga kami juga.

Seminggu kemudian suamiku pergi meninggalkan aku dan anakku untuk melanjutkan studinya keluar negeri. Sekarang dirumah ini hanya ada aku dan anakku saja, karena pembantuku sudah berhenti kerja 6 bulan lalu. Aku tdk berfikir untuk mencari penggantinya semua urusan rumah tangga sudah bisa aku lakukan sendiri.

Tiga bulan setelah kepergian suamiku, timbulah peristiwa ini. Saat itu kira-kira 100 meter disamping rumahku dibangun sebuah gedung yg lumayan besar, yg tak kusangka bahwa perusahaan yg membangun gedung tersebut adalah perusahaan dimana Bowo bekerja, sedangkan Bowo bertugas mengawasi pembangunan gedung tersebut.

Setiap pagi saat aku mengantar anakku sekolah atau kepasar selalu kulihat bangunan yg sedang dikerjakan itu dan beberapa kali juga kulihat Bowo sedang mengawasi pekerjanya atau sedang mengangkat alat-alat berat membantu buruh kerjanya. Entah Bowo tahu atau tdk bahwa sedan putih yg setiap pagi lewat itu adalah mobilku. Tetapi aku merasa Bowo mengetahuinya karena setiap aku lewat, Bowo selalu mengamati dengan serius dan selalu tersenyum.

Hingga pada suatu hari kira-kira jam 3 sore, pada saat itu anakku sedang les sementara aku sedang menonton acara tv paforitku sendiri dirumah. Tiba-tiba ada yg mengetuk pintu rumahku, setelah kubuka kulihat Bowo yg berada didepan dia tersenyum dan menyapa.

“Hai reni, sudah lama kita tak bertemu ya”
“Bowo … aku kan sudah bilang kalo kita tak boleh ketemu lagi” Jawabku.
“Jangan marah dulu dong reni, aku kesini hanya mau minta kain perban sekalian mencuci lukaku ini” Kata Bowo sambil memperlihatkan tangan kirinya yg terkoyak dan berdarah.

Awalnya ingin kuusir saja dia, tetapi melihat lukanya yg cukup parah aku kasihan juga.

“Ya udah, sini masuk biar kubersihkan dan kuobati” Jawabku spontan.

Aku memang memiliki sedikit pengalaman mengobati luka-luka seperti itu, yg sejak dulu sudah biasa aku lakukan.

Bowo pun kuajak masuk menuju belakang, kemudian kubersihkan lukanya dengan air hangat, kutetesi lukanya dengan betadine kemudian kelilitkan perban ke pergelangan tangannya. Selama aku mengobati lukanya tersebut, Bowo tak henti-hentinya mengamatiku dari ujung rambut hingga kaki. Seperti yg kukatakan sebelumnya kebiasaanku dirumah adalah memakai daster. Kebetulan daster yg kugunakan saat itu adalah daster yg berbahan tipis dan ujungnya pendek hingga 5cm diatas lutut.

Disela-sela mengamati tubuhku Bowo berkata.

“Kamu semakin cantik aja reni. Suamimu mana? Belum pulang kerja ya?”
“Oh.. dia sedang kuliah diluar negeri” Jawabanku tersebut spontan keluar begitu saja, membuat aku menyesal mengapa aku harus jujur, bukankah ini memberi kesempatan buat Bowo untuk berlama-lama dirumahku pikirku.
“Pantas selama ini kuperhatikan kamu selalu sendirian menyetir mobilmu, mobil baru ya?” Tanyanya.

Sambil berkata demikian Bowo menggeser sedikit posisi duduknya sehingga membuat mataku melirik kearah bagian bawah Bowo. Tertangkap oleh mataku tonjolan penis Bowo yg besar dibalik celana jeansnya yg ketat. Aku sedikit menyesal mengapa harus mengalihkan pandanganku kearah itu, jangan-jangan hal ini disengaja oleh Bowo untuk memancing arah pandangku. Aku sempat berpikir apa sih yg dipikirkan oleh Bowo hingga membuat penisnya tegang seperti itu, dasar laki-laki makiku dalam hati. Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaan Bowo tadi.

Setelah selesai memasang perban ditangan Bowo aku pun berdiri ingin mencuci tanganku. Tiba-tiba Bowo berdiri juga dan memegang tanganku kemudian berusaha memelukku. Kutepis tangannya dan aku berusaha mendorongnya dengan kedua tanganku.

“Jangan Bowo … hentikan!” Kataku sedikit berteriak.
"reni, aku kangen padamu” Kata Bowo dengan terus berusaha memelukku.
“Hentikan Bowo..!” Kataku, kemudian kutampar wajah Bowo dengan keras apalagi saat itu tanganku sedang memegang gunting yg kupergunakan untuk memotong perban tadi.

Bowo pun menghentikan tindakannya, kemudian mundur dan duduk diatas dipan dalam ruang keluarga tersebut sambil memegang pipinya yg tampak berdarah bekas tamparanku tadi. Aku menjadi iba lagi melihat Bowo, kemudian kudekati dia dan berkata.

“Maaf wo, sakit ya” Kataku sambil memperhatikan pipi kiri bagian atasnya yg berdarah, mungkin kena ujung gunting saat kutampar tadi.

Aku duduk tepat disebelah Bowo, kutiup lukanya dan kubersihkan darahnya dengan kapas luka, kemudian kutempelkan Handy plast dipipinya yg luka tersebut.

“Sekali lagi aku minta maaf ya wo, lukamu jadi bertambah” Kataku.
“Nggak apa-apa ren, aku juga minta maaf sudah keterlaluan tadi” Kata Bowo menghiba.
Kuraih tangannya dan kukatakan.
“Nggak apa-apa wo, aku juga salah padamu” Jawabku.

Bowo mengangguk dan senyum, kemudian dia memelukku dengan lembut. Kali ini pelukannya tdk kutolak, kuanggap ini bentuk ketulusan maaf dari Bowo.

Agak lama Bowo memelukku, perasaanku berkecamuk antara menghentikan pelukan Bowo atau merasakan dekapan dada Bowo yg bidang yg membuat darahku berdesir. Tanpa sadar tanganku yg tadi menggenggam tangan kiri Bowo menjadi semakin kuat genggamannya bahkan cenderung meremasnya.

Merasakan tindakanku tersebut, Bowo kemudian mencium bagian belakang leherku. Hal itu membuatku menggelinjang, daerah tersebut adalah daerah sensitifku. Tangan kanan Bowo yg sedari tadi menganggur mulai merayap menyisir bagian bawah dasterku, kemudian merayap masuk kedalam dasterku, mengelus pahaku bolak-balik. Bulu kudukku berdiri, birahiku muncul dengan dahsyat karena hampir 3 bulan sudah aku tdk berhubungan badan dengan suamiku. Untuk sekali lagi aku tak dapat menahan godaan dari laki-laki yg bukan suamiku ini.

“Aah.. Bowo” Kataku tak dapat menahan menyembunyikan perasaanku saat tangan Bowo mulai masuk kebalik CD ku dan mulai mengusap-usap bibir memekku.

Tak sampai disitu, jari-jari Bowo mulai masuk mengaduk-aduk dalam memekku. Dua jarinya sekaligus masuk dalam memekku.

Sudah terlanjur basah sekalian saja mandi pikirku. Aku pun mulai meremas-remas tonjolan penis Bowo Semakin lama remasanku semakin liar. Tak sampai disitu tanganku membuka kancing dan resleting jeans Bowo tanpa membuka CD nya. Kumasukkan tanganku kebalik CD Bowo terus kugenggam dan kuremas penis Bowo secara langsung, terasa besar sekali ditanganku.

Aku sudah lupa segalanya, aku pun turun dan berjongkok didepan Bowo yg sedang duduk di dipan. Kuturunkan CD Bowo tanpa melepasnya. Terpampanglah penis besar Bowo yg berdiri tegak, aku semakin bergairah melihatnya. Kuremas dan kumasukkan dalam mulutku kemudian kujilati kepala penisnya.

“Oohh…” Bowo melenguh merasakan nikmat kulumanku pada penisnya. Jilatanku terus turun kebawah kujilati dan kukulum kedua biji pelir Bowo. Bowo meracau.
“Oohh… nikmat reni, pintar sekali kamu reni, Oohh…” Racau Bowo

Agak lama aku mengulum penis Bowo, akhirnya Bowo pun tak tahan. Diangkatnya tubuhku dan didudukkannya diatas dipan sementara dia jongkok didepanku. Diangkatnya dasterku keatas hingga pinggang, kemudian ditekuknya kakiku diatas dipan dan tanpa melepas CD ku, dibukanya CD ku dari dari samping hingga memekku kini nampak jelas di hadapannya. Sesaat kemudian lidahnya menjulur menggapai memekku, dijilatinya bibir memekku kemudian dimasukkannya lidahnya kedalam lubang memekku. Beberapa saat kemudian sambil lidahnya mengaduk-aduk lubang memekku jarinya ikut memainkan klitorisku.

“Oohh… Bowo, nikmat sekali woo…” Racauku.

Baru kali ini aku diperlakukan seperti itu, sungguh nikmat sekali rasanya.

Beberapa lama kemudian diangkatnya tubuhku hingga berdiri, dilepasnya dasterku, bra ku, hingga CD ku. Aku pun sekarang telanjang bulat dihadapannya. Aku tak mau kalah kulepas kaos yg dipakai Bowo, Bowo membantu melepas jeans dan CD nya.

Kini kami berdua telanjang tanpa sehelai benang pun. Diraihnya payudaraku kemudian diisapnya secara bergantian kedua buah payudaraku. Sambil mengulum puting payudaraku diangkatnya kakai kiriku dan diletakannya diatas dipan kemudian dimasukannya penis besarnya kedalam lubang memekku. Agak kesulitan nampaknya Bowo mencari lubangnya, maka aku pun meraih penisnya dan kupandu menuju lubang memekku.

Sleep…blesss.. akhirnya masuklah penis panjang dan besar Bowo kelubang memekku acchhh..plokk..pplookk..pplokkk....nikmaattt sayanggg.

“Oohh…” Racauku nikmat. Baru kali ini aku merasakan bersetubuh dalam posisi berdiri, sungguh nikmat sekali.

Bowo terus menggoyangkan pantatnya sambil mulutnya mengulum payudaraku secara bersamaan.

“Ooohh… Bowo … kamu hebat Bowo … Ooohh… nikmatnya sayaanngggg…accchhhhh…” Racauku tanpa malu lagi.

Beberapa saat kemudian tubuhku kejang, rasanya aku akan keluar. Sementara Beni terus menggoyangkan pantatnya semakin lama semakin cepat saja. Beni menggigit-gigit kecil bagian atas payudaraku sambil terus menggoyang.

“Bowo … aku mau keluar” Jeritku merasakan tubuhku semakin kejang
“Tahan dulu rennn, kita keluar bersama-sama” Jawab Bowo.
“Ku keluarkan dimana sayaannggggg?” Tanya Bowo lagi.
“Keluarkan aja didalam wo, jangan lepas penismu ya sayangg…” Racau ku.

Goyangan Bowo semakin cepat dan cepat sekali, aku pun merasakan nikmat sekali.

“woooo…aaacccchhhh aku keluar…sayanngg....craaattt...ccraaaraat...craaat” Jeritku
“Aku juga keluar rennn… Aaargh…crrrattt.crarratttt crot nikmat bangettt sayanngggg” Jerit Bowo lagi.
Akhirnya kami bersamaan keluar, kemudian roboh dan duduk diatas dipan sambil berpelukan mesra.

Kurang lebih 20 menit istirahat, aku pun ijin untuk membersihkan badan dalam kamar mandi. Disaat aku mandi, Bowo masuk dalam kamar mandi yg memang tdk kukunci.

Tersentak aku kaget karena tiba-tiba Bowo mendekapku dari belakang. Diremasnya kedua payudaraku dengan kedua tangannya. Setelah puas meremas payudaraku, tangan kanannya merayap turun dan sampai dibibir memekku. Jari telunjuknya mulai masuk mengaduk-aduk lubang memekku.

Beberapa saat kemudian diangkatnya kakikiriku dengan tangan kanannya, keseimbanganku pun hilang tanganku meraih pinggiran bak mandi dan bertumpu disitu. Yg membuatku tambah kaget, Bowo memasukkan penisnya ke lubang memekku dari belakang.

“Oohh… wooo…niikkmmattt sayannggg..achhh” Jeritku saat penis Bowo masuk kedalam lubang memekku.

Bowo mulai menggoyangkan pantatnya. Baru pertama kali ini aku merasakan bersetubuh dalam posisi ini, ada rasa nyeri bercampur nikmat. penis Bowo terasa panjang sekali masuk dalam memekku. Kembali terasa ada ruang dalam memekku yg selama ini belum tersentuh sekarang ditembus oleh penis panjang dan besar milik Bowo ini. Rasa nyeri telah sirna sekarang yg terasa adalah nikmat luar biasa.

Bowo terus saja memaju-mudurkan pantatnya, semakin lama semakin cepat.

“Plak. Plak. Plak ” Bunyi peraduan selangkangan goyangan Bowo.....aaacchhh  nikkmaaattt saayaaannggg......

Aku pun tak kalah ganas sambil Bowo terus menggoyangkan pantatnya aku pun memberikan perlawanan dengan mengoyangkan pantatku yg semakin lama semakin liar.

Aku semakin bergairah dan racauku pun semakin menjadi-jadi.

“penismu nikmat sayangggg..” Jeritku
“Nikmat mana sama punya suamimu” Tanya Bowo
“Jangan lecehkan aku wo…” Jawabku
“Kamu nggak mau dilecehkan ya sayang” Tanya Bowo dengan semakin mempercepat goyangannya.
Aku yg sudah terlanjur nikmat menjawab.
“Ooohhh… lecehkan saja aku wo…Ooohh…” Jeritku
“penismu lebih nikmat dari punya suamiku woo, lebih besar, lebih panjang lebih nikmat..Ooohh….” Racauanku sudah semakin lupa diri.

Akhirnya…

“Aku keluar sayangggggg…Ooohhh….ccrraatttt,,,croott” Jeritku
“Aku juga keluar rennn…crroootttt....craaaarraaattt” Sambung Bowo.

makasih sayang ,aku benar-benar puas banget sayaangg

Setelah beristiraha sejenak dikamar mandi, kami pun mandi bersama-sama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teman Suami yang perkasa

  Cerita ini adalah kisah tentang perselingkuhanku dengan teman suami ku yang begitu menggoda hingga membuatku bernafsu untuk bercinta dengannya. Sebut saja nama teman suamiku ini Wahyu , umurnya 45 tahun. Dia adalah teman akrab suamiku yang sebaya dengannya, sedangkan aku berumur 40 tahun. Mereka sering bermain bersama, entah mengapa setiap Wahyu datang kerumah menjemput suamiku ia selalu menyapaku dengan senyumnya yang khas, sorotan matanya yang dalam selalu memandangi diriku sedemikian rupa apalagi sewaktu aku memakai daster yang agak menerawang tatapannya seakan menembus menjelajahi seluruh tubuhku. Aku benar benar dibuat risih oleh perlakuannya, sejujurnya aku merasakan sesuatu yang aneh pada diriku, walaupun aku telah menikah 2 0 tahun yang lalu dengan suamiku, aku merasakan ada suatu getaran dilubuk hatiku ditatap sedemikian rupa oleh Wahyu . Suatu hari suamiku pergi keluar kota selama 4 hari. Pas di hari minggu Wahyu datang kerumah maksud hati ingin mengajak suami...

ANTARA KEPONAKAN DAN OM

    Aku tinggal dengan tanteku. Kelihatannya hubungan mereka sudah tidak harmonis lagi. Makan masing2, om makan didepan tv dan tante makan di kamar. Om sering ketiduran di depan tv, dan baru masuk kamar kalo lampu kamar sudah gelap, artinya tante sudah tidur. Mereka sibuk dengan pekerjaannya masing2. Berangkat pagi2 dan pulang sering larut malam. Baik om maupun tante sering keluar kota untuk melakukan bisnisnya. Aku karena cuma numpang, ya tidak ikut campur dalam ketidak harmonisan itu. Hanya akhir2 ini, aku merasa om lebih memperhatikan aku, sering om ngajak aku ngobrol kalo dia ada dirumah dan kebetulan aku juga sedang santai. Tapi sejauh ini ya cuma ngobrol saja. Om lumayan ganteng, belum tua2 amat sih, mungkin pertengahan 40an. Satu malem, aku baru pulang dugem dengan teman2ku. Kepalaku agak berat karena tadi aku agak banyak minum minuman berakohol, tapi tidak sampai mabuk. Dirumah kelihatannya sudah sepi, tante sedang keluar kota. Aku gak tau om sudah pulang atau ...

Aku Digauli Oleh Teman Suamiku

  Cerita kali ini merupakan hal yang menyedihkan sekali karena teman suamiku yang sungguh tega dengan diriku ini. Cerita Panas ini merupakan kisah sangat menyedihkan karena itu aku berani mengukapkanya di cerita bebas ini dengan aku kirimkan lewat via email karena aku harus ccurhat kemana lagi. Aku mau cerita ke teman dekatku aku takut karena bisa sampai ke suamiku. Awalnya memang sangat takut aku di perkosa karena sebenenya aku juga kurang nafsu birahi aku pura2 berontaksaja sama teman suamiku yang memperkosa aku tapi sebenernya juga aku ke enakan. Oh ya panggil saja namaku Dina Rozana, biasa dipanggil Dina. Aku berasal dari ras Melayu dan tinggal di Kuala Lumpur, Malaysia. Berikut ini aku akan berbagi tentang pengalaman ku tentang sex yang pernah kualami dalam kehidupan nyataku. Tentang pengalamanku diperkosa oleh beberapa lelaki dan bukan suamiku menjadikan ini cerita seru untuk pembaca pecinta pembaca cerita. Walaupun ini adalah pengalaman pribadiku tapi aku tak sungkan untuk m...